Kelompok Ternak Mekarsari Kembangkan Bio Gas

Sabtu Kliwon, 28 Maret 2009 00:00 WIB ∼ 248 Komentar (0)

Kotoran sapi yang orang menyebutnya telothong yang sangat menjijikan dan sering menebar bau yang kurang sedap, namun  hal itu justru menjadi tantangan bagi masyarakat Nogosari, Gilangharjo, Pandak  untuk merobahnya menjadi emas yang bernilai ekonomis tinggi. Pada umumnya kotoran sapi oleh petani hanya dimanfaatkan untuk pupuk organik yang tidak dikemas dengan baik.
      Warga  Nogosari, Gilangharjo, Pandak setiap rumah memilihara sapi yang terlihat kurang indah dan cenderung kumuh di lingkungannya. Maka sejak tahun 2003 masyarakat merusaha untuk membuat kandang kelompok yang berada di sebelah timur dusun menempati lokasi di kas desa. Sejak itu kotoran sapi menjadi menumpuk dan beserakan bahkan menebar bau yang kurang sedap jika musim hujan. Tidak tanggung-tanggung pengelola ternak kelompok itu ibu-ibu dengan nama  kelompok ternak wanita Mekarsari.
      Samsudin  selaku pembina kelompok mengatakan, jumlah angota kelompok wanita sebanyak 68 orang yang setiap hari mengurusi ternak-ternak yang dibantu para bapak-bapaknya. Selain mengelola organisasi ia terus berfikir untuk mengembangkan ternak baik sapi mapun kambing lebih lanjut agar masyarakat khususnya anggota memiliki nilai tambah selain daging maupun sapinya juga kotarannya. Bukan itu saja pemikiran terus berkembang jika dimungkinkan kotoran itu bisa dikelola lebih baik untuk kehidupan, sehingga tercetus untuk mengembangkan kotoran ternak dijadikan bio gas dalam rangka untuk mengurangi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dirasakan terus memberatkan masyarakat.
      “ Jika hal ini bisa terwujud untuk kepentingan rumah tangga, jelas akan mengurangi konsumsi BBM khususnya minyak tanah  maupun gas elpigi untuk kebutuhan setiap hari “, kata Samsudin saat ditemui di kandang kelompok.     
      Pemikiran dan semangat itu terus di kembangkan untuk mencari tahu bagaimana cara pembuatan bio gas dengan bahan baku kotoran ternak. Maka tahun 2006 lalu ia mendapat undangan pelatihan untuk membuat bio gas di UGM dan Dinas Pertanian DIY dengan memanfaatkan limbah rumah tangga, kotoran ternak, limbah tahu. Dengan ukuran 6 Meter kubik, 9 meter kubik, 12 meter kubik. Sebagai pembina kelompok maka ingin megembangkan bio gas dari kotoran ternak sapi.
      Oleh-oleh dari pelatihan tersebut di tularkan kepada anggota kelompok dan masyarakat sekitarnya yang ternyata sangat mendukung adanya pengembangan pemanfaatan bio gas untuk keperluan rumah tangga.  Setelah diperhitungkan secara cermat  biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 15 juta untuk ukuran 15 meter kubik, di praktikan untuk membuat sarana dan prasarana yang dibutuhkan agar bio gas dari kotoran sapi itu bisa dimanfaatkan.
      Pertama membuat lubang di dalam tanah dengan konstruksi cor untuk menampung kotoran sapi yang telah dicampur dengan air, didalam  bak besar berisi kotoran dan air itu ditutup rapat dan diberi pipa saluran bio gas yang dialirkan ke dapur untuk kepentingan rumah tangga. Ternyata hasilnya sangat membanggakan dan bisa untuk memasak tidak kalah dengan kompok yang menggunakan  gas elpiji. Sisa dari bio gas dari kotoran ternaknya masih bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik termasuk air yang terus mengelir ke sawah juga akan memberikan kesuburan bagi tanaman.
       Sejak berhasilnya uji coba  membuat bio gas dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan rumah tangga, hal itu terus dipromosikan kepada masyarakat luas bukan saja di wilayah kabupaten Bantul, tetapi juga dari luar DIY  banyak yang belajar akan keberhasilan memanfaatkan kotoran ternak. Bahkan DPRD Kabupaten Jembrana, Bali juga tertarik untuk mengembangkan bio gas untuk kepentingan rumah tangga, yang beberapa hari lalu telah melihat secara dekat tentang prosesnya. Tidak tanggung-tanggung ingin kerja sama untuk pembuatanya.  
      “ Sebenarnya banyak kelompok, lembaga pendidikan maupun pemerintahan dari luar daerah yang ngangsu kaweruh ingin menirunya, karena pembuatanya yang sangat sederhana dan  mudah untuk dimanfaatkan, tandas Samsudin.
      Bagi warga Nogosari, Gilangharjo, Pandak yang rata-rata setiap Kepala keluarga (KK) memiliki sapi dua, tiga ekor sebenarnya kotoarnya cukup untuk bahan bio gas dengan lubang ukuran  6 meter kubik  yang biaya pembuatanya sekitar Rp 9 Juta an itu bisa dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga dan tidak harus beli sepanjang tahun.
      “ Pokoknya lebih hemat, hanya biaya sekali untuk pembuatan lubang untuk menampung kotoran itu, bisa dimanfaatkan bertahun-tahun “, lanjutnya.
      Kelompok ternak wanita Mekarsari selain mengembangkan bio gas juga melayani pupuk organik yang dikelola secara profesional yang dikemas dengan plastik lima Kg, namun hingga saat ini masih kewalahan untuk melayani pasar. Selain pupuk kering juga pupuk cair sisa  bio gas, yang ternyata bisa membuat subur tanaman. Bahkan direncanakan kelompok tersebut juga akan mengembangkan sayuran organik.
      Sementara itu Lurah desa Gilangharjo, Pandak Aan Sumarna mengatakan, ia sangat bangga akan hasil kerja bagi warganya yang ingin terus didukung untuk pengembangan lebih lanjut, khususnya bagi warga sekitarnya. Perlu diketahui bahwa Desa Gilangharjo yang memiliki 15 dusun, 91 RT dengan jumlah penduduk 15574 jiwa, 4385 Kepala keluarga (KK), kini juga mulai mengembangkan kandang ternak.  Paling tidak sudah ada 4 kelompok  yang sudah berkembang dan maju yang akan diikuti oleh dusun lain untuk menbuat kelompok ternak.
      Direncanakan kelompok-kelompok ternak se desa Gilangharjo  didorong untuk mengembangkan bio gas yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan rumah tangga. Bahkan lurah desa yang masih muda itu juga mendorong untuk mengembangkan produksi sayuran organik yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Bwr)



Komentar (0)

Nama harus di isi.
Format E-mail tidak tepat.
Pesan harus diisi, minimal 10 karakter, maksimal 1000 karakter.