MEWUJUDKAN PENDIDIKAN BERKARAKTER DI KABUPATEN BANTUL

Rabu Pon, 26 September 2012 00:00 WIB ∼ 212 Komentar (0)

Saksikan "GARDU PROJOTAMANSARI 1 OKTOBER 2012" live di Jogja TV pukul 19.30-21.00 WIB

MEWUJUDKAN PENDIDIKAN BERKARAKTER DI KABUPATEN BANTUL

                                  NARASUMBER:
Fachruddin, S.Ag    : Ketua Pansus Pembahas Raperda Tentang Penyelenggaraan Pendidikan
Jupriyanto, S.Si    : Wakil Ketua Pansus Pembahas Raperda Tentang Penyelenggaraan Pendidikan
Drs. H. Sugito, M.Si    : Praktisi Pendidikan

          Mengakhiri bulan September, hampir seluruh masyarakat Indonesia masih teringat dengan peristiwa makar dari beberapa anak bangsa yang terkenal dengan Gerakan Tiga Puluh September Tahun 1965 atau lebih dikenal dengan “Gestapu”. Kudeta atau makar tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengganti ideologi Pancasila. Pada masa tersebut, peristiwa makar seperti ini bukan terjadi sekali saja, sebelumnya di tahun 1948 juga terjadi pemberontakan di Madiun.  Diuji dengan sekian banyak ancaman perubahan ideologi, Pancasila membuktikan kesaktiannya sebagai ideologi yang diterima dan didukung oleh semua rakyat Indonesia. Sebagai peringatan atas peristiwa tersebut pada tanggal 1 Oktober diperingati sebagai “Hari Kesaktian Pancasila” sampai dengan saat ini.
          Kenapa Pancasila disepakati oleh pendiri bangsa, dan sampai saat ini masih sangat relevan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita? Jawabnya adalah ruh kelahiran pancasila didasari pada keanekaragaman ras, suku bangsa, agama, idologi yang dihormati dan diakui oleh bangsa kita. Pancasila juga menanamkan nilai-nilai budi pekerti luhur yang berakar dari budaya dan adat istiadat masyarakat Indonesia. Dimasa lalu sosialisasi nilai-nilai luhur Pancasila berlangsung dengan giat  dan gencar di semua lini dan semua generasi. Wujudnya mungkin kita masih ingat dengan penataran P4 dan kegiatan-kegiatan lain yang senada.
          Aspek pendidikan budi pekerti dan penanaman nilai-nilai luhur bangsa bagi generasi muda kita di sektor pendidikan saat ini mungkin sedikit tergeser oleh kompetisi dan tuntutan penguasaan materi pelajaran untuk anak-anak kita. Pendidikan yang sejatinya bukan hanya menyampaikan materi saja namun juga memperhatikan aspek moral peserta didik mulai tergeser dengan sistem pengajaran yang berarti hanya menyampaikan materi pelajaran tanpa memperhatikan aspek moral peserta didik. Seorang anak yang pintar akan lebih dihargai dibandingkan anak yang memiliki budi pekerti luhur, akibatnya beberapa dari anak kita ini menggunakan segala macam cara dan bahkan mungkin kecurangan agar bisa meraih nilai tertinggi pada mata pelajaran yang diajarkan.
          Hal lain yang miris bila kita saksikan yaitu fenomena kenakalan remaja saat ini kerap menghiasi berbagai media. Tawuran, pergaulan bebas, hubungan seks diluar nikah, dan penyalahgunaan obat-obat terlarang, semua ini  tidaklah  lepas dari terabaikannya pendidikan karakter bangsa atau pendidikan budi pekerti generasi penerus bangsa ini. Kondisi seperti ini semakin runyam dengan masuknya arus budaya luar melalui kemajuan teknologi informasi yang  semakin tidak bisa kita saring.
          Mensikapi kondisi seperti ini, DPRD Kabupaten Bantul sebagai mitra Pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan merasa perlu untuk “cawe-cawe” dalam mengatur sistem pendidikan di Kabupaten Bantul. Komitmen Pemerintah Daerah dalam membangun dunia pendidikan di Bantul sudah tidak diragukan lagi. Berbagai prestasi sampai tingkat nasional bahkan internasional  telah ditorehkan anak-anak Bantul. DPRD memandang prestasi ini harus diiringi dengan pendidikan karakter bagi siswa didik di Kabupaten Bantul. Melalui fungsi  DPRD sebagai legislator Daerah, DPRD Kabupaten Bantul baru-baru ini menggodog Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) inisiatif DPRD tentang Penyelenggaraan Pendidikan di Kabupaten Bantul.  DPRD pun telah membentuk dan menugaskan Panitia Khusus DPRD untuk segera membahas rancangan Perda inisiatif ini. Misi mulia yang ingin dimasukkan adalah nilai-nilai pendidikan berkarakter diantaranya pembiasaan anak untuk ramah, sopan, jujur, mau mengakui kesalahan, bertanggungjawab dan lain sebagainya. Meskipun pendidikan karakter tersebut tidak masuk dalam kurikulum nasional, namun DPRD ingin nilai-nilai pendidikan karakter tersebut diamanatkan dalam Perda Penyelenggaraan Pendidikan ini.  Hingga nantinya keberadaan Perda Penyelenggaraaan Pendidikan di Kabupaten Bantul dapat bermanfaat dalam membangun karakter generasi penerus kita selain mencetak generasi cerdas dan pintar.
          Melalui media “Gardu Projotamansari” DPRD berharap masukan dari segenap rakyat dan para praktisi pendidikan untuk bisa memberikan wawasan dan masukan secara komprehensip demi kesempurnaan penyusunan Raperda ini.
         
  



Komentar (0)

Nama harus di isi.
Format E-mail tidak tepat.
Pesan harus diisi, minimal 10 karakter, maksimal 1000 karakter.