“KOMUNIKASI” KUNCI KEBERHASILAN POLA ASUH PADA SISWA DIDIK (Hasil Liputan Inspeksi Mendadak Komisi

Kamis Pon, 20 Desember 2012 00:00 WIB ∼ 45 Komentar (0)

Dunia pendidikan di Kabupaten Bantul beberapa saat yang lalu menghiasi berita terkini dalam berbagai media massa baik cetak maupun elektronik. Mulai dari “demonstrasi” dengan diikuti mogok belajar di salah satu sekolah menengah kejuruan swasta akibat kartu ujian yang ditahan sekolah dan dugaan penganiayaan kepada dari salah satu pendidik kepada siswanya di salah satu sekolah menengah. Kasus-kasus tersebut bisa jadi benar adanya bisa pula karena pemberitaan yang kurang berimbang. Namun yang pasti kondisi seperti ini setidaknya mencoreng citra pendidikan di Kabupaten Bantul. Progres yang lama Pemerintah Kabupaten Bantul Sekolah-sekolah lain yang kualitas pendidikannnya baik di wilayah Kabupaten Bantul ikut tercoreng gara-gara satu peristiwa itu saja.
        Dunia pendidikan di kabupaten Bantul sebetulnya beberapa kali menorehkan tinta emas baik di lingkup nasional maupun level propinsi. Mulai dari peringkat nilai UAN pada masing-masing tingkat pendidikan, dunia olahraga  hingga prestasi ekstra kulikuler lainnya. Beberapa saat lalu, pelajar Bantul memecahkan rekor MURI saat membacakan ikrar damai anti tawuran dalam wujud “nembang jowo”. Bukan hanya pemecahan rekor MURI semata, kegiatan ini menjadikan Bantul sebagai pionir dalam gerakan anti “bullying” atau kekerasan di sekolah-sekolah. Secara tidak langsung pendidikan karakter bagi siswa Kabupaten Bantul masuk dalam prioritas pembangunan daerah. Kebijakan ini seiring dengan konsep pendidikan dewasa ini yang bukan diarahkan kepada pendistribusian materi pelajaran semata namun juga memperhatikan aspek pendidikan karakter bagi anak. Pendidikan karakter yang dimaksud adalah penanaman dan penerapan nilai luhur dan budi pekerti bagi siswa didik dalam kehidupan sehari-hari.
        Ada tiga pihak yang memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak tersebut, yang pertama adalah orang tua, yang kedua sekolah atau lembaga pendidikan dan yang ketiga adalah lingkungan tempat anak tersebut bersosialisasi. Menanamkan dan menerapkan pendidikan karakter harus berkelanjutan dalam arti sinergi antara orangtua, lembaga pendidikan dan lingkungan harus bersatu padu dan dalam satu semangat yang sama.
         Artinya tanggungjawab pendidikan karakter anak bukan menjadi tanggung jawab salah satu dari ketiga pihak diatas misalnya sekolah, orang tua atau lingkungan saja namun ketiganya harus bisa memantau dan berperan aktif dalam mengawasi dan menanamkan nilai-nilai budi pekerti luhur kepada anak. Dengan komunikasi aktif diantara ketiga pihak tersebut maka untuk mengetahui perkembangan jiwa anak didik akan lebih mudah.
       Melihat permasalahan yang sempat muncul diatas, Komisi D DPRD Kabupaten segera melaksanakan inspeksi mendadak dengan melakukan peninjauan ke sekolah-sekolah bersangkutan. Setelah dilakukan pendalaman permasalahan didapatkan beberapa fakta yang menarik, bahwa permasalahan yang mendasar dari peristiwa tersebut adalah minimnya komunikasi antara pihak orangtua murid dan sekolah. Pihak sekolah sudah berusaha untuk proaktif berkomunikasi dengan orang tua/wali murid, namun adakalanya beberapa siswa yang bermasalah rata-rata orang tua/wali muridnya kurang proaktif dengan sekolah. Sebagai contoh, saat siswa nunggak iuran sekolah, pihak sekolah mengundang orangtua siswa lewat surat yang dititipkan kepada siswa. Namun karena sudah ketakutan siswa tersebut tidak menyampaikan surat itu ke orangtua atau disampaikan tapi karena orangtuanya supersibuk maka hampir tidak ada waktu untuk menyempatkan diri hadir ke sekolah. Pihak sekolah tidak berhenti pada upaya itu saja, pihak sekolah melakukan kunjungan ke rumah untuk mengkonfirmasi, ternyata dirumah pun orangtua pun sudah kewalahan dengan perilaku anaknya akibat pergaulan lingkungan yang cenderung memancing anak berperilaku agresif. Kondisi inilah yang memancing perilaku “premanisme” masuk di lingkungan sekolah. Siswa lain pun cenderung terpengaruh mengikuti perilaku tersebut bila ada temannya yang “disegani” baik siswa atau guru di sekolah.Disisi lain, penerapan displin memang mutlak diterapkan bagi siswa didik. Namun seharusnya dalam kontek edukatif. Penerapan disiplim mati dan kaku justru akan memancing siswa untuk menirukan. Pendekatan komunikasi yang proaktif dari guru dan perangkat sekolah akan lebih efektif dalam membimbing siswa daripada pendekatan disiplin kaku.
       Dari hasil yang didapat tersebut, komisi D melakukan mediasi dengan pihak sekolah dan segera melaksanakan koordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan untuk menemukan solusi yang terbaik bagi dunia pendidikan di Kabupaten Bantul



Komentar (0)

Nama harus di isi.
Format E-mail tidak tepat.
Pesan harus diisi, minimal 10 karakter, maksimal 1000 karakter.